<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>NuGiE Go NgeBloG &#187; Psikologi</title>
	<atom:link href="http://www.nugie.web.id/tag/psikologi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.nugie.web.id</link>
	<description>Informasi Bisnis dan Internet</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Nov 2011 15:25:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Delapan Kado Indah</title>
		<link>http://www.nugie.web.id/2010/07/delapan-kado-indah-2.html</link>
		<comments>http://www.nugie.web.id/2010/07/delapan-kado-indah-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 11:57:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nugie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nugie.web.id/?p=546</guid>
		<description><![CDATA[Delapan macam kado ini adalah hadiah teridah dan tak ternilai bagi orang – orang yang Anda sayangi. Kehadiran Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telephon, ataupun foto. Namun dengan berada di sampingnya, Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian dan kasih sayang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Delapan macam kado ini adalah hadiah teridah dan tak ternilai bagi orang – orang yang Anda sayangi.</p>
<p><strong>Kehadiran</strong></p>
<p>Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telephon, ataupun foto. Namun dengan berada di sampingnya, Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebagiaan.</p>
<p><strong>Mendengar</strong></p>
<p>Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengan dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul – betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan Anda memberikan tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekerdar ucapan terima kasih pun akan terdengar manis baginya.<span id="more-546"></span></p>
<p><strong>Diam</strong></p>
<p>Seperti kata – kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukup, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, Diam juga bisa menunjukkan  kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari – hari kita sudah terbiasa gemar menasehati, mengatur, mengkritik bahkan mengomel.</p>
<p><strong>Kebebasan</strong></p>
<p>Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah “Kau bebas berbuat semaumu”. Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.</p>
<p><strong>Keindahan</strong></p>
<p>Siapa yang tidak bahagia, jika orang yang disayangi tiba – tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? tampil indah dan rupawan juga merupakan sebuah kado yang indah. Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana di rumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.</p>
<p><strong>Tanggapan Positif</strong></p>
<p>Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah – olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat – ingat pula, pernahkah Anda memuji. Kedua hal ini, ucapkan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf) adalah kado indah yang sering terlupakan.</p>
<p><strong>Kesediaan Mengalah</strong></p>
<p>Tidak semua masalah layak menjadi beban pertengkaran. Apalagi sampai menjadi pertengkaran yang hebat. Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado “kesiapan mengalah”. Kesiapan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.</p>
<p><strong>Senyuman</strong></p>
<p>Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyumana, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang Anda kasihi ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nugie.web.id/2010/07/delapan-kado-indah-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara</title>
		<link>http://www.nugie.web.id/2009/11/wawancara.html</link>
		<comments>http://www.nugie.web.id/2009/11/wawancara.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 09:03:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nugie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips & Trick]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nugie.web.id/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Berbohong saat tes wawancara bukan hanya tak berguna, tapi juga bisa membuat Anda tidak diterima. Lebih bijaksana bila pertanyaan dijawab apa adanya, spontan, langsung ke pokok persoalan, tidak mengada-ada, tidak menggurui, dan sopan. &#8220;Padahal tinggal wawancara lo, kok gagal. Dulu juga begitu, selalu kandas di tahap ini&#8221;. Keluhan macam itu banyak kita dengar dari mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-390" style="border: 0pt none; margin: 0px 2px;" title="tes-wawancara-kerja" src="http://www.nugie.web.id/wp-content/uploads/2009/11/tes-wawancara-kerja.jpg" alt="tes-wawancara-kerja" width="196" height="196" />Berbohong saat tes wawancara bukan hanya tak berguna, tapi juga bisa membuat Anda tidak diterima. Lebih bijaksana bila pertanyaan dijawab apa adanya, spontan, langsung ke pokok persoalan, tidak mengada-ada, tidak menggurui, dan sopan.</p>
<p>&#8220;Padahal tinggal wawancara lo, kok gagal. Dulu juga begitu, selalu kandas di tahap ini&#8221;. Keluhan macam itu banyak kita dengar dari mereka yang tak lolos dalam wawancara psikologi untuk melamar kerja. Sebuah kenyataan yang menyesakkan, apalagi kebanyakan tahapan wawancara berada diakhir proses seleksi. Lolos di sini berarti si calon diterima di tempat kerja yang baru.</p>
<p>Wawancara psikologi punya banyak makna. Ada beberapa versi, salah satunya, menurut Bingham dan Moore, wawancara adalah &#8220;&#8230; conversation directed to define purpose other than satisfaction in the conversation itself&#8221;. Sedangkan menurut Weiner, &#8220;The term interview has a history of usage going back for centuries. It was used normally to designate a face to face meeting of individual for a formal conference on some point.&#8221;<span id="more-389"></span></p>
<p>Dari kedua definisi itu didapatkan kondisi bahwa wawancara adalah pertemuan tatap muka, dengan menggunakan cara lisan, dan mempunyai tujuan tertentu.</p>
<p>Jangan dibayangkan wawancara itu sama dengan interogasi karena tujuan utamanya memang &#8220;berbeda&#8221;, meskipun sedikit serupa dalam hal menggali dan mencocokkan data. Yang pasti, cara yang dipergunakan dalam kedua hal itu berlainan.</p>
<p>Interogasi lbh menekankan pada tercapainya tujuan, dgn berbagai cara dan akibat, baik secara halus maupun kasar. Posisi interogator lebih tinggi dan bebas drpd yg diinterogasi, serta lebih langsung.</p>
<p>Bandingkan dengan wawancara psikologi, di mana kedudukan antara pewawancara dan yang diwawancarai relatif setara. Kondisinya pun berbeda, karena tidak ada penekanan serta tidak menggunakan kekuasaan. Bahkan dalam kondisi ekstrem, seorang calon karyawan yang diwawancarai bisa saja tidak menjawab, pewawancara pun tidak akan memaksa. Namun, hal itu tentu akan sangat mempengaruhi penilaian dalam pengambilan keputusan seorang psikolog.</p>
<p><strong>Cocok berbobot </strong></p>
<p>Wawancara dalam tes psikologi (psikotes) sebenarnya satu paket dengan tes tertulisnya. Tes ini bertujuan mencari orang yang cocok dan pas, baik dari tingkat kecerdasan, serta sifat dan kepribadian. Istilah kerennya mendapatkan &#8220;the right man in the right place&#8221;.</p>
<p>Dasar pemikiran lain knp perlu diadakan seleksi, yaitu adanya perbedaan potensi yg dimiliki setiap individu. Perbedaan itu akan menentukan pula perbedaan dlm pola pikir, tingkah laku, minat, serta pandangannya terhadap sesuatu. Kondisi itu juga akan berpengaruh terhadap hasil kerja. Bisa jadi suatu pekerjaan atau jabatan akan lebih berhasil bila dikerjakan oleh individu yg mempunyai bakat serta kemampuan seperti yg dituntut o/ persyaratan dari suatu pekerjaan atau jabatan itu sendiri.</p>
<p>Ada beberapa tujuan spesifik dari wawancara psikologi. Pertama, observasi. Dalam hal ini calon kar-yawan dilihat dan dinilai. Mulai dari penampilan, sikap, cara menjawab pertanyaan, postur &#8211; terutama untuk pekerjaan yang memang membutuhkannya, seperti tentara, polisi, satpam, dan pramugari. Penilaian juga menyangkut bobot jawaban dan kelancaran dalam menjawab.</p>
<p>Demikian pula perilaku dan sikap-sikap yang akan muncul secara spontan bila berada dalam situasi yang baru dan mungkin menegangkan. Misalnya, mata berkedip-kedip atau memutar jari-jemari yang dilakukan tanpa sadar.</p>
<p>Dalam hal bobot jawaban, misalnya, si calon bisa dinilai apakah ia memberikan jawaban yg dangkal atau tidak, atau malah berbelit-belit. Jawaban berupa &#8220;Ingin naik pesawat&#8221; atau &#8220;Ingin ke luar negeri&#8221; merupakan contoh jawaban yg dinilai dangkal atas pertanyaan alasan menjadi pramugari.</p>
<p>Sedangkan kelancaran dalam menjawab biasanya dinilai dari berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh seorang calon karyawan untuk menjawab pertanyaan.</p>
<p>Dalam wawancara psikologi yang diperlukan sebenarnya jawaban spontan dan tidak mengada-ada. Misalnya, apabila ditanya alamat, sebut saja alamat kita. Tidak usah ditambah-tambahi atau malah berlagak sok pintar.</p>
<p>Tujuan berikutnya dalam tes wawancara adalah menggali data yang tidak didapatkan dari tes tertulis. Misalnya, apakah istri bekerja, anak bersekolah di mana, masih tinggal bersama orangtua atau tidak, serta apa judul skripsi dan berapa nilai yang didapat.</p>
<p>Yang tidak kalah penting dalam mempengaruhi penilaian adalah kecocokan data. Benarkah data yang ditulis oleh sang calon?</p>
<p>Atas dasar itu seorang psikolog sering melontarkan pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman dan intelegensi si calon. Misalnya, calon mengaku berpendidikan S2, maka diajukan pertanyaan yang sesuai dengan tingkat pendidikan itu. Bila jawabannya kurang bermutu, dapat saja diambil kesimpulan bahwa calon memiliki intelegensi yang kurang atau dianggap tidak serius selama menjalani proses pendidikan.</p>
<p>Sering juga terjadi hasil tes tulis bagus, tapi hasil wawancaranya kurang meyakinkan. Hal ini bisa terjadi karena mungkin ia telah beberapa kali mengikuti psikotes atau pernah mengikuti bimbingan psikotes. Tes ulang dapat menjadi alat untuk mengatasi keraguan itu.</p>
<p>Dalam konteks di atas, tidaklah mungkin seorang calon membohongi psikolog. Riskan pula bila dia tidak menjawab dengan sebenarnya. Terbuka sudah kepribadiannya yang tidak jujur, padahal kejujuran merupakan prasyarat penting untuk perusahaan.</p>
<p>Pada wawancara untuk evaluasi karyawan atau promosi jabatan biasanya data curiculum vitae (CV) dari instansi atau perusahaan sudah diberikan semua dari Bagian Personalia.</p>
<p>Manfaat lain wawancara adalah melengkapi data yang terlupakan atau tidak tertulis secara lengkap. Misalnya, sudah pernah mengalami psikotes atau belum. Kalau sudah, berapa kali? Untuk apa? Lulus atau tidak? Mungkin juga minat ataupun gaji yang diinginkan. Yang terakhir, manfaat wawancara yaitu untuk membuat keputusan.</p>
<p>Dari hasil pemeriksaan psikologi tertulis dan wawancara, dibuatlah kesimpulan, apakah calon ini memenuhi syarat seperti job description yang diberikan oleh perusahaan atau tidak.</p>
<p>Terkadang ada psikotes yang tidak menggunakan wawancara. Semua itu tergantung tujuan pemeriksaan, ketersediaan data yang mungkin sudah lengkap, serta tidak begitu mensyaratkan penampilan atau postur. Misalnya, bila yang diperlukan operator komputer, yang penting dia bisa komputer dan inteligensinya cukup.</p>
<p><strong>Mengapa gagal? </strong></p>
<p>Banyak calon karyawan gagal dalam psikotes, termasuk di dalamnya wawancara. Mengapa?</p>
<p>Sesungguhnya, hasil pemeriksaan psikologi bersifat rahasia, dalam arti tidak setiap orang dapat menerjemahkan dalam bahasa sehari-hari. Jadi, yang berhak adalah psikolog yang berkompeten.</p>
<p>Hal itu berbeda dengan tes kesehatan, di mana jenis kegagalan dapat disebutkan dengan jelas dan biasanya dapat pula dilihat. Sementara hasil psikotes masih merupakan data kasar berupa angka-angka sehingga perlu dijelaskan dalam bahasa awam oleh psikolog, untuk dijadikan data kualitatif.</p>
<p>Pada dasarnya psikotes bukan ujian. Psikotes tidak mengukur prestasi melainkan potensi dasar setiap individu. Dalam tes prestasi ada materi yang dapat dipelajari, misalnya bahasa Inggris. Bila seseorang mendapat nilai B dalam pelajaran itu, berarti penguasaan materi Bahasa Inggrisnya baik.</p>
<p>Sedangkan psikotes mengukur potensi dasar yang dimiliki tiap individu. Seseorang yang memang pada dasarnya cerdas, dites seperti apa pun tetap akan baik hasilnya. Asalkan dia serius pada saat mengerjakan dan tidak terganggu konsentrasinya sehingga dapat bekerja secara optimal.</p>
<p>Untuk mengurangi risiko gagal, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Yang pertama, penampilan fisik. Perhatikan dengan saksama apalagi bila profesi yang akan dimasuki mensyaratkan penampilan menarik &#8211; seperti pramugari, teller bank, atau sekretaris. Sedangkan tentara/polisi lebih menitik-beratkan pada postur ideal antara tinggi dan bobot badan, serta ada persyaratan minimal tinggi badan.</p>
<p>Perhatikan juga cara berpakaian, sebaiknya sesuaikan dengan situasi dan suasana. Misalnya, dalam wawancara untuk calon pramugari sebaiknya tidak mengenakan pakaian yang tidak selayaknya, seperti celana panjang berbahan jins. Atau menggunakan sepatu sandal, meskipun sedang mode.</p>
<p>Kerapian dan kesopanan berpakaian juga dipertimbangkan. Misalnya, tidak mengenakan kemeja yang lengan panjangnya dilipat, atau hanya mengenakan kaus, atau kemeja tidak dimasukkan.</p>
<p>Sikap pun memberikan nilai penting. Yang dimaksud dengan sikap ialah bagaimana si calon karyawan dapat menempatkan diri pada posisi yang tepat. Sebaiknya bersikap wajar saja, tidak dibuat-buat, tetapi juga tidak tegang atau gugup.</p>
<p>Selain itu, biasanya dinilai pula kesopanan yang sesuai dengan norma. Misalnya, tidak tampak menjilat, mengetuk pintu bila akan masuk ruangan, atau kalau belum dipersilakan duduk, ya, jangan duduk dulu. Dalam menjawab pertanyaan tidak bertele-tele, langsung pada inti masalah. Kemudian menjawab secara jujur, tidak perlu ditutup-tutupi. Misalnya, pernah tidak naik kelas atau pernah gagal pada tes di perusahaan lain.</p>
<p>Selain itu, dalam menjawab tidak usah menggurui, meskipun si calon sudah memiliki pendidikan yg cukup tinggi, pengalaman cukup banyak, atau dari segi usia lebih tua daripada si pewawancara.</p>
<p>Jangan pula menjawab dengan sombong, misalnya mengaku sebagai atlet yang sudah keliling ke banyak negara dan memiliki segudang prestasi. Bangga boleh-boleh saja, tetapi kalau hasil psikologi tertulisnya kurang baik, tetap saja tidak lulus.</p>
<p>Yang tidak kalah penting, tidak usah bertanya. Meski merasa optimistis dengan hasil tes tulis dan merasa bisa mengerjakan, calon tidak perlu bertanya mengenai hasilnya. Pada dasarnya wawancara adalah tes jg sehingga hal ini akan mempengaruhi penilaian. Selain itu, situasi yg dihadapi saat itu adalah situasi tes, bukan konsultasi psikologi. Pertimbangkan pula banyak calon lain yg menunggu.</p>
<p>Umumnya, u/ memperoleh informasi penting dari calon karyawan digunakan metode FACT, yaitu:</p>
<ul>
<li>F: Feeling. Tentang apa yang dirasakan oleh orang itu. Ditanyakan minatnya, gambaran pekerjaan, apakah juga sudah terbayang.</li>
<li>A: Action. Mengenai tindakan-tindakan apa yang telah dilakukan.</li>
<li>C: Condition. Kondisi/situasi/keadaan di mana kejadian itu berlangsung.</li>
<li>T: Thinking. Mengenai apa yang dipikirkan atau yang diinginkan oleh orang pada saat itu.</li>
</ul>
<p>Pemahaman yang lebih baik tentang wawancara psikologi akan membuat kita lebih mudah mempersiapkan diri menghadapi jenis wawancara ini. Yang pasti, wawancara psikologi tidak perlu ditakuti dan tidak bisa dibohongi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nugie.web.id/2009/11/wawancara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Isteri</title>
		<link>http://www.nugie.web.id/2009/04/empat-isteri.html</link>
		<comments>http://www.nugie.web.id/2009/04/empat-isteri.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 08:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nugie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nugie.web.id/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 isteri. Dia mencintai isteri ke-4 dan menganugerahkan harta dan kesenangan, sebab ia yang tercantik di antara semua isterinya. Pria ini juga mencintai isterinya yang ke-3. Ia sangat bangga dengan sang isteri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita cantik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 isteri. Dia mencintai isteri ke-4 dan menganugerahkan harta dan kesenangan, sebab ia yang tercantik di antara semua isterinya.</p>
<p>Pria ini juga mencintai isterinya yang ke-3. Ia sangat bangga dengan sang isteri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita cantik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu kuatir kalau isterinya ini lari dengan pria lain. Begitu juga dengan isteri ke-2. Sang pedagang sangat menyukainya karena ia isteri yang sabar dan penuh pengertian.</p>
<p>Kapan pun pedagang mendapat masalah, ia selalu minta pertimbangan isteri ke-2nya ini, yang selalu menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sulit.</p>
<p>Sama halnya dengan isteri kedua. Isteri pertamanya adalah pasangan sangat setia dan selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisnis sang suami.<span id="more-273"></span></p>
<p>Akan tetapi, sang pedagang kurang mencintainya meski isteri pertama ini begitu sayang kepadanya. Suatu hari si pedagang sakit dan menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati. &#8220;Saat ini aku punya 4 isteri. Namun saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan.&#8221;</p>
<p><strong>ISTERI KE-4 : NO   WAY</strong></p>
<p>Lalu pedagang itu memanggil semua isterinya dan bertanya kepada isteri ke-4nya. &#8220;Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan indah. Nah sekarang aku akan mati. Maukah kamu mendampingi dan menemaniku?&#8221; ia terdiam&#8230; tentu saja tidak! Jawab isteri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa² lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan² ada pisau terhunus dan mengiris-iris hatinya.</p>
<p><strong>ISTERI KE-3 : MENIKAH LAGI</strong></p>
<p>Pedagang itu sedih lalu bertanya pada isteri ke-3. &#8220;Aku pun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kamu ikut denganku dan menemani akhir hayatku?&#8221; isterinya menjawab, &#8220;hidup begitu indah di sini, aku akan menikah lagi jika kau mati&#8221;. Bagai disambar petir di siang bolong, sang pedagang sangat terpukul dengan jawaban tersebut. Badannya terasa demam.</p>
<p><strong>ISTERI KE-2 : SAMPAI LIANG KUBUR</strong></p>
<p>Kemudian ia memanggil isteri ke-2. &#8220;Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dan kau selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku butuh sekali bantuanmu. Kalau aku mati, maukah engkau mendampingiku?&#8221; jawab isteri, &#8220;Maafkan aku kali ini aku tak bisa menolong. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur. Nanti akan kubuatkan makam yang indah untukmu.&#8221;</p>
<p><strong>ISTERI KE-1 : SETIA BERSAMA SUAMI</strong></p>
<p>Pedagang ini merasa putus asa. Dalam kondiri kecewa itu, tiba² terdengar suara, &#8220;Aku akan tinggal bersamamu dan menemanimu kemana pun kau pergi.</p>
<p>Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Pria itu lalu menoleh ke samping, dan mendapati isteri pertamanya di sana. Ia tampak begitu kurus. Badannya seperti orang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, &#8220;Kalau saja aku bisa merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kubiarkan engkau kurus seperti ini, isteriku.&#8221;</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>HIDUP KITA DIWARNAI 4 ISTERI</strong></span></p>
<p>Sesungguhnya, kita punya 4 isteri dalam hidup ini.</p>
<p><strong>Isteri ke-4 adalah TUBUH kita</strong></p>
<p>Seberapa banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam suatu saat batas waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap kepada-Nya.</p>
<p><strong>Isteri ke-3, STATUS SOSIAL DAN KEKAYAAN</strong></p>
<p>Saat kita meninggal, semua akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita pernah memilikinya. Sebesar apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan sebanyak apapun harta kita, semua itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejab ketika kita tiada.</p>
<p><strong>Sedangkan isteri ke-2, yakni KERABAT DAN TEMAN.</strong></p>
<p>Seberapa pun dekat hubungan kita dengan mereka, kita tak akan bisa terus bersama mereka. Hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita.</p>
<p><strong>Dan sesungguhnya isteri pertama kita adalah JIWA DAN AMAL KITA.</strong></p>
<p>Sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia mendampingi kemana pun kita melangkah. Hanya amallah yang mampu menolong kita di akhirat kelak.</p>
<p>Jadi selagi mampu, perlakukanlah jiwa kita dengan bijak serta jangan pernah malu untuk bebbuat amal, memberikan pertolongan kepada sesame yang membutuhkan. Betapa pun kecilnya bantuan kita, pemberian kita menjadi sangat berarti bagi mereka yang memerlukannya.</p>
<p>Mari kita belajar memperlakukan jiwa dan amal kita dengan bijak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nugie.web.id/2009/04/empat-isteri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

